Lo pernah ngalamin ini gak: jam 10 pagi, bos lagi ngasih briefing, tiba-tiba HP getar. Ada email dari HRD: "Bisa interview besok jam 2 siang?" Sementara di rumah, bayi lo baru umur 6 bulan dan istri lagi kewalahan. Rasanya mau teriak, tapi gak bisa.
Gue ngalamin sendiri. Waktu anak pertama gue lahir, gue lagi aktif-aktifnya cari kerja baru karena kantor lama mulai gak sehat. Tiap kali dapat panggilan interview, yang ada di kepala bukan "pertanyaan apa yang bakal ditanya", tapi "siapa yang jagain anak, gimana izin kantor, dan apakah gue bakal kelihatan kayak karyawan yang gak serius".
Baca juga: 5 Kesalahan Karier yang Sering Dilakukan Orang Tua Baru
Nah, artikel ini gue tulis buat lo yang lagi ada di posisi itu. Orang tua baru, masih kerja, tapi pengen pindah atau lagi cari peluang. Ini jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang paling sering muncul di grup parenting dan grup alumni kampus.
Baca Juga: design4works.com
"Gimana caranya izin interview tanpa bohong ke kantor?"
Pertanyaan ini paling sering banget muncul. Jawaban singkatnya: lo gak harus bohong, tapi lo juga gak wajib cerita semua.
Kalau interview-nya di jam kerja, lo bisa pakai alasan yang benar tanpa harus buka kartu. Misalnya "ada urusan keluarga yang harus gue urus" — ini bukan bohong, karena cari kerja demi keluarga itu memang urusan keluarga. Atau lo bisa ambil cuti setengah hari kalau memang ada jatah.
Yang gue lakuin dulu: gue blok jam interview di kalender sebagai "appointment pribadi". Atasan gue gak pernah nanya detail, karena gue memang jarang banget pakai alasan itu. Kuncinya adalah jangan sampai lo jadi orang yang tiap minggu ada "appointment pribadi". Kalau sering, baru curiga.
Yang penting bukan gimana lo izin, tapi gimana lo tetap bertanggung jawab sama pekerjaan yang sekarang. Karier itu soal reputasi jangka panjang, bukan cuma interview hari ini.
"Interview jam 2 siang, tapi anak baru umur 8 bulan. Gimana?"
Ini pertanyaan yang bikin banyak orang tua baru akhirnya nunda cari kerja. Padahal solusinya banyak, cuma memang butuh persiapan ekstra.
Pertama, coba minta jadwal pagi. Jam 9 atau 10 itu biasanya lebih aman karena lo masih fresh, anak juga biasanya masih tidur pagi. HRD umumnya fleksibel kalau lo jelasin dengan sopan: "Maaf, apakah bisa dijadwalkan pagi? Saya ada tanggung jawab mengantar anak ke daycare." Kalimat ini jujur, profesional, dan justru bikin lo kelihatan punya manajemen hidup yang rapi.
Kedua, kalau memang harus siang, siapkan backup. Pasangan, orang tua, mertua, atau babysitter harian. Jangan sampai lo interview sambil mikirin anak yang rewel di rumah. Fokus itu mahal harganya di ruang interview.
Ketiga, kalau interview-nya online, cari tempat netral. Banyak orang tua baru interview dari rumah sambil jagain anak, dan hasilnya kacau. Anak nangis di background, lo panik, interviewer dengar semuanya. Lebih baik interview dari kafe tenang, kantor teman, atau coworking space murah daripada dari kamar yang pintunya bisa dibuka anak kapan saja.
Yang gue pelajarin dari interview online waktu anak gue masih bayi
Gue pernah interview online dari kamar mandi. Serius. Karena satu-satunya ruangan yang ada kunci dan gak ada suara anak adalah kamar mandi. Hasilnya? Dapat kerjaan. Tapi gue gak nyaranin lo ngulang hal yang sama, karena itu bukan strategi, itu keputusasaan.
Yang lebih sehat: lo atur jadwal interview di jam yang lo tahu anak lo tidur siang, dan lo titip ke pasangan selama 45 menit. Komunikasikan ini jauh hari, jangan mendadak.
"Apakah aman cerita kalau gue punya anak kecil?"
Ini yang paling sering bikin orang tua baru galau. Takut dicap gak bisa lembur, gak bisa dinas luar, gak bisa fokus.
Jawaban gue: ceritakan kalau ditanya, jangan buka duluan. Tapi kalau ditanya, jawab dengan jujur dan tunjukkan bahwa lo sudah punya sistem.
Contoh jawaban yang gue pakai dulu: "Iya, saya punya anak satu yang masih balita. Tapi saya sudah punya pengaturan dengan pasangan dan keluarga, jadi pekerjaan tetap prioritas di jam kerja. Kalau ada kebutuhan lembur, saya bisa atur asal dikomunikasikan lebih awal."
Kalimat ini ngasih tiga sinyal ke interviewer: lo jujur, lo punya support system, dan lo profesional. Itu jauh lebih meyakinkan daripada lo sembunyiin status lo dan nanti ketahuan di hari pertama kerja.
Ada perusahaan yang memang gak ramah orang tua. Kalau dari interview aja lo udah merasa dihakimi karena punya anak, itu red flag. Lo gak mau masuk ke tempat kerja yang bikin lo harus milih antara anak dan karier tiap hari.
"Karier gue bakal stuck gak sih setelah punya anak?"
Ini pertanyaan yang gue dengar dari banyak teman. Dan jawabannya: tergantung gimana lo mendefinisikan "stuck".
Kalau stuck berarti gak naik jabatan dalam 2 tahun, mungkin iya. Tapi kalau stuck berarti gak berkembang sama sekali, itu pilihan lo, bukan takdir.
Justru banyak orang tua baru yang kariernya malah naik setelah punya anak. Kenapa? Karena mereka jadi lebih efisien. Waktu terbatas bikin lo belajar bilang "tidak" ke hal-hal yang gak penting. Lo jadi lebih fokus, lebih tegas soal prioritas, dan lebih paham arti tanggung jawab.
Yang gue lihat dari teman-teman yang kariernya tetap jalan setelah punya anak adalah mereka melakukan tiga hal ini:
- Mereka komunikasi aktif ke atasan. Bukan minta dikasihani, tapi minta kejelasan soal ekspektasi dan jam kerja.
- Mereka investasi ke skill yang bisa dipakai fleksibel. Misalnya skill analisis, komunikasi, atau manajemen proyek — hal-hal yang gak harus dikerjakan jam 9 sampai 5.
- Mereka gak membandingkan diri dengan yang belum punya anak. Ini penting. Kalau lo terus bandingin energi lo sama anak muda single, lo bakal capek sendiri.
Gue sendiri dulu sempat merasa karier gue melambat waktu anak pertama lahir. Tapi setelah 3 tahun, gue sadar justru di periode itu gue belajar banyak hal yang gak bisa diajarin di kantor: sabar, negosiasi, dan mengatur emosi. Skill itu kepakai banget waktu gue akhirnya pindah kerja dan dapat posisi yang lebih baik.
Hal kecil yang sering dilupakan orang tua baru saat interview
Selain soal jadwal dan anak, ada beberapa hal teknis yang sering kelewat. Ini gue tulis berdasarkan pengalaman dan cerita teman-teman:
- Cek ulang jadwal interview dengan kalender pasangan. Jangan sampai lo dan pasangan sama-sama ada agenda penting di jam yang sama.
- Siapkan pakaian dari malam sebelumnya. Pagi hari dengan bayi itu chaos. Kalau baju udah siap, lo tinggal mandi dan berangkat.
- Bawa air minum dan camilan. Interview bisa molor. Lo yang udah semalaman bangun karena anak rewel bakal lebih rentan lemas.
- Matikan notifikasi grup keluarga. Ini keliatan sepele, tapi banyak orang tua baru gagal fokus karena HP terus bunyi dari grup WA keluarga yang nanya "anaknya udah makan belum?".
Dan satu lagi: jangan interview di hari yang sama dengan jadwal imunisasi anak. Gue pernah lakuin ini dan hasilnya gue interview sambil mikirin anak yang demam di rumah. Gak fokus, gak maksimal.
Jadi, apa yang harus lo lakuin mulai sekarang?
Kalau lo orang tua baru dan lagi cari kerja, jangan tunggu "sampai anak gede dulu". Waktu yang tepat itu gak akan pernah datang kalau lo nunggu sempurna. Mulai aja dulu, atur strateginya, dan terima bahwa bakal ada hari-hari yang berantakan.
Yang penting, lo jujur ke diri sendiri soal kapasitas lo. Jangan ambil 5 interview dalam seminggu kalau lo baru punya bayi 3 bulan. Ambil 1 atau 2, tapi persiapkan dengan matang. Kualitas lebih penting daripada kuantitas, apalagi kalau energi lo terbatas.
Dan satu hal terakhir yang gue pengen lo ingat: punya anak itu bukan kelemahan di mata employer yang bagus. Justru itu bukti lo bisa dipercaya, bisa multitasking, dan punya alasan kuat buat kerja dengan baik. Kalau ada perusahaan yang gak lihat itu, ya berarti bukan tempat lo.
Semoga lancar interview-nya. Dan semoga anak lo tidur siang pas lo lagi interview. Itu doa yang paling realistis buat orang tua baru.