Baru punya anak itu rasanya kayak dunia berputar 180 derajat. Tidur nggak karuan, kepala penuh dengan jadwal imunisasi, tapi tuntutan kerja nggak serta-merta berkurang. Gue pernah ada di titik itu — datang ke kantor dengan mata panda, ngejar deadline sambil mikirin apakah bayi gue udah minum ASI yang cukup.
Masalahnya, banyak orang tua baru yang tanpa sadar bikin keputusan karier yang justru merugikan diri sendiri. Bukan karena mereka nggak kompeten, tapi karena panik, lelah, dan kadang merasa serba salah. Nah, ini lima kesalahan yang paling sering gue lihat — dan gue sendiri hampir banget ngalamin beberapa di antaranya.
Baca juga: Wawancara Kerja Gagal Terus? Ini 7 Hal yang Bikin Kamu Ditolak
Baca Juga: erockappel.org
1. Langsung Mengundurkan Diri Tanpa Rencana Matang
Ini yang paling sering terjadi. Begitu si kecil lahir, langsung kepikiran: "Udah deh, gue resign aja." Padahal keputusan itu diambil murni karena kelelahan, bukan karena perhitungan.
Gue ngerti banget rasanya. Bayi baru lahir itu butuh perhatian penuh, dan tuntutan kerja kadang terasa nggak masuk akal. Tapi resign tanpa hitungan finansial yang jelas bisa jadi bumerang. Tiba-tiba tabungan terkuras, stres keuangan naik, dan hubungan rumah tangga ikut kena imbasnya.
Kalau memang mau resign, pastikan dulu:
Untuk topik 18TOTO - Cara Verifikasi Akun Pragmatic Play Terbaru Agar Transaksi Lancar Tanpa Kendala, baca ulasan lengkapnya di sini.
Kalau kamu berani mengambil langkah, halaman ini siap menemani!
- Ada dana darurat minimal 6 bulan pengeluaran keluarga
- Sudah diskusi terbuka dengan pasangan soal pembagian peran
- Punya rencana jelas setelah resign — mau jadi full-time parent, usaha, atau cari kerja remote?
Jangan sampai kamu resign karena emosi sesaat, lalu enam bulan kemudian nyesel karena nggak punya pegangan.
Informasi selengkapnya bisa dibaca di 18TOTO.
2. Menyembunyikan Status Orang Tua Saat Wawancara
Ini kesalahan yang banyak banget dilakukan, terutama ibu baru. Takut dianggap nggak bisa fokus kerja, akhirnya milih diam soal anak. Padahal, menyembunyikan hal ini justru bisa bikin masalah di kemudian hari.
Gue pernah dengar cerita teman HRD yang bilang, kandidat yang jujur soal statusnya justru lebih dihargai. Bukan karena perusahaan mau diskriminasi, tapi karena mereka tahu kamu bakal lebih transparan soal kebutuhan fleksibilitas.
Kejujuran soal prioritas hidup bukan kelemahan. Itu tanda kamu tahu apa yang kamu mau.
Yang perlu kamu lakukan saat wawancara adalah mengarahkan percakapan ke solusi, bukan sekadar mengeluh soal sulitnya jadi orang tua. Misalnya: "Saya punya anak kecil, jadi saya sangat menghargai manajemen waktu. Saya biasa kerja efektif di jam tertentu dan sudah terbukti bisa deliver hasil."
Framing-nya beda banget, kan? Satu terdengar seperti beban, satu terdengar seperti kekuatan.
3. Mengabaikan Negosiasi Fleksibilitas Kerja
Banyak orang tua baru yang langsung menerima tawaran kerja apa adanya karena takut nggak dapat pekerjaan lain. Padahal, momen wawancara atau saat menerima offering letter adalah waktu paling tepat buat negosiasi.
Kamu bisa minta:
- Jam kerja fleksibel atau hybrid
- Kemungkinan kerja remote beberapa hari seminggu
- Kompensasi tambahan untuk childcare
- Cutting waktu untuk urusan darurat anak
Gue tahu, nggak semua perusahaan bisa kasih ini. Tapi kalau kamu nggak nanya, kamu nggak akan pernah tahu. Dan kalau perusahaan langsung menolak dengan nada merendahkan, itu justru tanda red flag — mungkin memang bukan tempat yang cocok buat kamu sekarang.
Jangan Takut Dianggap "Rewel"
Negosiasi itu bukan tanda kamu nggak bersyukur. Justru itu tanda kamu profesional dan tahu nilai dirimu. Perusahaan yang bagus akan menghargai itu.
4. Memaksakan Standar Lama Setelah Punya Anak
Sebelum punya anak, mungkin kamu tipe yang bisa lembur sampai jam 10 malam, lanjut kerja weekend, dan selalu ambil proyek ekstra. Setelah punya anak, standar itu nggak realistis lagi.
Masalahnya, banyak orang tua baru yang tetap memaksakan diri dengan standar lama, lalu merasa gagal ketika nggak bisa memenuhinya. Ini bahaya. Kamu bisa burnout, dan yang paling parah, hubungan dengan anak dan pasangan jadi korban.
Gue pernah baca sebuah studi yang bilang produktivitas seseorang nggak selalu diukur dari berapa lama dia duduk di kantor. Yang lebih penting adalah kualitas output. Jadi mulai sekarang, fokuslah pada hasil, bukan jam kerja.
Bicarakan dengan atasan soal ekspektasi yang realistis. Kalau memungkinkan, minta prioritas kerja yang jelas. Jangan coba jadi superhero yang bisa semua hal — itu cuma ada di film.
5. Lupa Investasi di Diri Sendiri
Ini yang paling sering diabaikan. Begitu jadi orang tua, semua energi habis buat anak dan kerja. Nggak ada waktu buat belajar hal baru, ikut seminar, atau sekadar baca buku pengembangan diri.
Untuk topik 18TOTO - Cara Verifikasi Akun Pragmatic Play Terbaru Agar Transaksi Lancar Tanpa Kendala, baca ulasan lengkapnya di sini.
Padahal, dunia kerja terus berubah. Kalau kamu berhenti belajar selama dua-tiga tahun, bisa jadi skill kamu ketinggalan. Dan ketika kamu mau balik ke pasar kerja atau naik level, kamu sadar kompetitormu sudah jauh di depan.
Nggak perlu muluk-muluk. Mulai dari hal kecil:
- Luangkan 30 menit sehari buat baca artikel industri
- Ikut satu webinar online sebulan
- Update LinkedIn dan portofolio secara berkala
- Jaga hubungan dengan mantan kolega atau mentor
Ingat, jadi orang tua bukan berarti karier kamu harus mandek. Justru dengan anak, kamu punya alasan lebih kuat buat terus bertumbuh.
Karier dan Keluarga Bukan Dua Hal yang Harus Dipertentangkan
Banyak orang merasa harus memilih: karier atau keluarga. Padahal, dengan strategi yang tepat, keduanya bisa jalan bareng. Kuncinya adalah komunikasi, perencanaan, dan keberanian buat bilang "nggak" pada hal yang nggak esensial.
Gue sendiri masih belajar sampai sekarang. Ada hari-hari di mana gue merasa gagal di dua sisi sekaligus. Tapi pelan-pelan, gue sadar bahwa yang penting bukan kesempurnaan, melainkan konsistensi dan kejujuran pada diri sendiri soal prioritas.
Kalau kamu sedang di fase ini, tenang. Kamu nggak sendirian. Yang penting, jangan ambil keputusan besar saat sedang capek dan panik. Ambil napas, diskusi dengan pasangan, dan pastikan setiap langkah karier kamu selaras dengan kehidupan keluarga yang kamu bangun.