Gue masih ingat banget malam itu. Jam sebelas malam, di kamar kos ukuran 3x3 yang ventilasinya cuma satu, gue duduk di lantai sambil memangku laptop. Besok pagi ada wawancara kerja pertama gue di sebuah perusahaan di Jakarta Selatan. Dari kos gue di Depok, perjalanan bisa dua jam kalau apes. Tapi yang bikin gue nggak bisa tidur bukan macetnya. Yang bikin gue melek itu pertanyaan: kalau gue gagal, gue pulang ke kampung nggak ya?
Anak rantau pasti paham perasaan ini. Kamu jauh dari orang tua, uang kiriman pas-pasan, dan tiap kali telepon Mama, pertanyaannya selalu sama: "Kapan pulang?" Padahal kamu tahu, pulang bukan pilihan yang gampang. Wawancara kerja buat anak rantau bukan cuma soal cari nafkah. Ini soal membuktikan kalau merantau kamu nggak sia-sia.
Baca Juga: erockappel.org
Hari Pertama Wawancara: Gugup yang Bikin Lupa Nama Sendiri
Wawancara pertama gue, jujur, kacau. Gue datang terlalu pagi, nunggu di lobi sambil baca ulang CV yang isinya ya gitu-gitu aja. Pengalaman organisasi seadanya, IPK standar, nggak ada magang di perusahaan besar. Sementara di sebelah gue, ada kandidat lain yang bawa tas branded dan ngobrol santai soal pengalaman magang di Singapura. Rasanya pengen ngilang.
Baca juga: Kerja di Kampung, Wawancara Tetap Bisa Maksimal Tanpa Boncos
Baca Juga: Lebih baik datang dengan senyuman daripada pergi dengan penasaran!
Masuk ruangan, interviewer-nya ramah sih. Tapi pertanyaan pertama udah bikin gue keringetan: "Ceritakan tentang diri kamu."
Gue jawab dengan hafalan yang gue susun semalaman. Panjang, bertele-tele, dan nggak ada isinya. Selesai wawancara, gue udah tahu hasilnya. Dan benar, dua minggu kemudian email penolakan datang. Waktu itu gue cuma bisa ketawa getir sambil makan mie instan.
Informasi selengkapnya bisa dibaca di 18TOTO.
Pelajaran Mahal dari Kos Sebelah Masjid
Ada satu hal yang nggak pernah diajarin di kampus: cara jual diri sendiri. Di kelas, kita diajarin teori, rumus, jurnal. Tapi nggak ada mata kuliah "Cara Menjawab Pertanyaan Interview Tanpa Kelihatan Bodoh".
Gue belajar itu justru dari tetangga kos gue. Namanya Bang Rian, umurnya sekitar 30-an, kerja di perusahaan logistik. Tiap subuh dia ke masjid, dan suatu hari gue ikut. Selesai salat, kami ngobrol. Gue cerita soal wawancara gagal gue. Dia ketawa, terus bilang sesuatu yang sampai sekarang gue inget:
Untuk topik 18TOTO - Cara Verifikasi Akun Pragmatic Play Terbaru Agar Transaksi Lancar Tanpa Kendala, baca ulasan lengkapnya di sini.
"Wawancara itu bukan ujian. Itu obrolan. Kamu cuma perlu bikin orang di seberang meja percaya kalau kamu nggak akan bikin repot."
Simpel banget, tapi ngena. Selama ini gue mikir wawancara itu kayak sidang skripsi. Padahal bukan. Interviewer juga manusia. Mereka cari orang yang bisa diajak kerja, bukan robot yang hafal jawaban sempurna.
Hal-hal yang Gue Ubah Setelah Gagal Berkali-kali
Setelah gagal di tiga wawancara berturut-turut, gue mulai ubah pendekatan. Nggak ada yang instan, tapi pelan-pelan hasilnya kelihatan.
- Berhenti hafal jawaban. Gue mulai latihan ngobrol, bukan menghafal. Kadang gue rekam diri sendiri pakai HP, terus dengerin. Cringe sih, tapi efektif.
- Cari tahu perusahaan sebelum datang. Dulu gue cuma baca "About Us" di website. Sekarang gue cek berita terbaru, produk mereka, bahkan review karyawan di internet. Ini bikin gue bisa nanya balik di akhir sesi, dan interviewer-nya keliatan impressed.
- Jujur soal kelemahan. Dulu gue selalu jawab "kelemahan saya perfeksionis". Bohong banget. Sekarang gue jawab apa adanya, plus usaha apa yang gue lakuin buat ngatasin.
- Nanya balik. Wawancara itu dua arah. Kalau kamu cuma jawab dan nggak nanya, keliatan banget kamu cuma butuh kerja, bukan peduli sama tempatnya.
Yang paling penting sih poin pertama. Hafalan bikin kamu kaku. Dan interviewer yang udah pengalaman bisa langsung tahu kalau kamu cuma ngulang script.
Untuk topik 18TOTO - Cara Verifikasi Akun Pragmatic Play Terbaru Agar Transaksi Lancar Tanpa Kendala, baca ulasan lengkapnya di sini.
Rantau Itu Berat, Tapi Bikin Kamu Tahan Banting
Ada satu keuntungan jadi anak rantau yang sering nggak kita sadari: kita udah terbiasa survive sendiri. Bangun pagi tanpa dibangunin Mama, atur uang kiriman biar cukup sampai akhir bulan, masak nasi pakai rice cooker yang tutupnya udah nggak pas. Semua itu latihan mental yang nggak kelihatan di CV, tapi berasa banget pas wawancara.
Waktu interviewer nanya, "Gimana kamu handle tekanan?" Gue nggak perlu ngarang cerita. Gue tinggal cerita soal hidup di kos, soal akhir bulan yang harus makan telur rebus, soal nyari kerja sambil ngerjain skripsi. Itu jawaban yang autentik. Dan interviewer biasanya suka yang autentik.
Gue akhirnya keterima di perusahaan gue sekarang setelah wawancara ke-enam. Bukan perusahaan besar, bukan gaji fantastis. Tapi cukup buat gue tinggal di kos yang lebih layak, dan cukup buat nelpon Mama sambil bilang, "Ma, aku udah kerja."
Buat Kamu yang Lagi Nunggu Panggilan Wawancara
Kalau kamu anak rantau yang lagi bingung, lagi capek, lagi mikir mau pulang aja — gue ngerti. Gue pernah di titik itu. Tapi dengerin deh:
Gagal wawancara itu bukan tanda kamu nggak cukup. Kadang cuma soal timing, soal kecocokan, soal hal-hal di luar kendali kamu. Yang bisa kamu kontrol cuma persiapan dan sikap kamu. Sisanya, biarin aja.
Dan satu lagi, jangan malu sama status kamu sebagai anak rantau. Justru itu kekuatan kamu. Kamu udah berani keluar dari zona nyaman, dan itu nggak semua orang bisa. Wawancara kerja cuma satu pintu dari banyak pintu lain yang bakal kebuka. Yang penting kamu nggak berhenti ngetuk.
Oh iya, buat kamu yang besok ada wawancara, tolong tidur yang cukup. Jangan kayak gue dulu, melek sampai jam dua pagi cuma buat baca ulang CV sendiri. Percaya deh, interviewer nggak peduli kamu hafal CV kamu atau nggak. Yang mereka peduliin: kamu bisa diajak kerja bareng atau nggak.
Semangat, kawan rantau. Kos kamu mungkin sempit, tapi mimpi kamu jangan.